Tubuhku Bukan Neraka – 2


Di tubuhku hidup para setan penghisap kebahagiaan mereka tumbuh dari rasa sakit dan juga kemarahan.
Tentu saja mereka tak suka aku bahagia sebab kebahagiaan akan musnahkan mereka.


Para setan ini berteman dengan setan-setan lain di tubuh orang lain.
Untuk beranak pinak mereka bekerja bersama mendekatkan orang-orang dengan kepedihan yang sama,
luka, dan kemarahan yang serupa.


Karena banyak orang ingin bahagia namun mereka memilih sebaliknya
Ada yang tidak sadar melakukannya, ada yang tidak mau meyakininya, ada yang percaya mereka tidak berhak merasa bahagia.
Bagi beberapa orang, rasa sakit membuat mereka merasa hidup.
Bagi banyak orang, rasa sakit membuat mereka mengada menjadi ada.


Tapi tubuhku bukan neraka,
meski setiap kali seseorang pergi, para setan kompak berteriak serentak meyakini, “kamu tidak berharga, kamu tidak pantas dicintai, dan akan mati seorang diri.”
Tubuhku bukan neraka,
walau sejumlah rasa asal neraka berkelindan menjalar sekujur tubuh, menusuk dalam, menghujam kulit, menyengat kepala, meminta darah menyembur-menyembur dari pergelangan urat nadi.
Tubuhku bukan neraka,
meski di tiap episode gelap hanya ada satu suara di dalam kepala, “mati, mati, mati, mati!”


Tubuhku bukan neraka,
meski tiap tersesat aku tak punya tempat pulang sebab rumah hadir untuk mereka yang penuh terang.
meski tiap kali aku merasa sebagai pecundang dan tingkap hormat terlahir hanya untuk para pemenang.


Tubuhku bukan neraka
Meski para setan berkata satu suara, aku hidup atau tidak hidup tidak berarti banyak karena aku tak cukup punya akhlak, tidak akan pernah layak.
Tubuhku bukan neraka
Meski para setan berkata satu suara, aku tidak akan cukup, tidak pernah menjadi cukup, tidak cukup berbakti, takkan pernah menjadi utuh sepenuh manusia, sampah!


Tubuhku bukan neraka.
Aku percaya tubuhku bukan neraka.
Sebab di dalamnya tumbuh iman pada kuasa yang tak lekang oleh panas.
Sebab harapan menjelma menjulang tinggi atas penghidupan yang lebih baik dari hari ini.
Sebab tubuhku adalah gelanggang pertempuran dengan bahagia sebagai tujuan.


Tubuhku bukan neraka
Tubuhku bukan neraka
Ia surga yang menjadi rumah jawaban
Akhir segala pencarian panjang


Johor Baru, 24 November 2017

 

 

 

Advertisements

Ra

Bagaimana memastikan bahwa kau adalah jawaban doa dan bukan marabahaya?
Tentu saja, segalanya terkait ruang pandang.
Berkah atau jalan buntu,
pembelajaran atau tamparan keras di tulang pipi.

Aku ingin memastikan kita punya jatah waktu dan tempat.
Aku ingin memanjat menara takdir dan menggedor pintunya keras-keras,
“Bang! Bang! Bang!”
Menuliskan namamu dan namaku menjadi kita dalam kuncian jodoh semesta.

Aku melihatmu tertawa, salah, aku mendengarmu tertawa. Bukan!
Aku membayangkanmu tertawa melihat kenaifanku menggerayangi sia-sia langit yang penuh kuasa.
“Kita tidak pernah ada apalagi menjadi nyata,” di kepalamu jalan cerita bergulir tentang Bumi yang mengejar Matahari tanpa hasil.

“Sebentar, sebentar, sebentar,” kataku, “namamu bulan tapi kamu matahari. Penggalan nama depanmu tanpa kamu sadar adalah mukadimah segala doa untuk Matahari yang menghidupi Bumi.
-Bumi seromantis itu ketika jatuh cinta-
Kamu tidak sadar setiap aku memanggilmu, aku mengucap doa untukmu bagiku engkauku akumu.”

Badai tiba. Gelegar petir menakutkan anak-anak kucing di dalam rumah.
Aku bersiap menghadapi banjir sambil berpikir seandainya air bisa menghapus segala luka dan kenangan, aku tetap tak ingin melupakanmu.

Jakarta, 19 Oktober 2017
Bentara Bumi

Hujan di Bulan

:untuk R

Ada banyak cara merekat jarak antara langit kotaku dan pantai pulaumu.
Menarik larik lembayung senja misalnya;
kupancang ia kuat, di depan rumahku ia terlihat, sembari mengingat senyummu lekat.

Aku menghitung waktu pertemuan seiring terbit purnama dan bulan mati,
jatuh cinta lalu patah hati.
Mengenal perih buatku mengerti,
ada kasih yang tak semerta-merta berarti mencintai.

Di langit kita bertemu.
Angkasa berisi kemungkinan tanpa batas.
Mencintai adalah melepas ikatan ingatan atas jarak dan harapan.
Kupintal doa bertulis namamu dan mengecup keningmu pelan.

Serbuk semesta menggenang kenangan.
Hujan di bulan,
aku ingin melupakanmu perlahan-lahan.

Jakarta, 4 Agustus 2017

Selena

Seperti demam yang bisa kulupakan tingginya,
namun pegalnya setia menggantung pundakku.

Aku mencarimu,
di sudut pandang
di pojok ruang
di dering notifikasi.

Kamu selalu berkata,
“aku ada, di sini, tak kemana.”
Namun aku tak menemukanmu dekat atau mengetuk pintu kamarku.

Meja pajang di ruang tamuku kosong.
Aku ingin meletakkan cintamu di sana.

Jakarta, 4 Juni 2017

Damba

Kita bertaruh tentang waktu dan jumlah,
berbicara batas perasaan
Kukatakan padamu langit Jakarta indah di waktu malam

Kalimat sopan, tanda baca tanpa cela
Khayal semu disemat dalam jarak antar kata
Pelan ikuti batas garis mati

Sampai kapan kita bertahan?
Permainan ini murah tanpa bayaran atau harapan
Gelap terbit dan aku bukan diriku sendiri

Apakah cinta pantas untukku?
Banyak tanya meluncur, bibir mungilmu gementar,
dan pandangku terantuk lama sekali

Wahai puan penuh damba ingin tahu,
denganmu aku menyunting diriku sendiri
Kita takkan ke mana,
meski aku tak menolak jika kau meminta

Rumasuar

Dalam gelap,
titik cahaya adalah harapan.

Dalam terang,
sumbu suar menjadi tujuan.
Jalan terang menuju pulang.

Diri hanyut untuk larut,
dalam semesta muara segala.
Dalam cahaya,
kutemukan jawab segala tanya.

Jakarta, 22 Januari 2017

Esa

Mengingat Tuhan adalah mengingat diri sendiri.

Siapa saya?
Darimana saya?
Akan kemana nanti saya pergi?

Saya adalah bagian dari Tuhan, datang dari Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan.

Karenanya saya tak pernah sendiri karena Tuhan selalu bersama saya.
Karenanya saya tak pernah sendiri karena sebenarnya saya tak pernah terlepas,
selalu menjadi bagian dari Tuhan.

Tidak ada kesendirian karena sejak awal mula,
saya dan Dia adalah satu.
Di dalam diri dan nanti saat kembali.

Jakarta, 23 Januari 2017