Saat Bapak Kembali

Dan bapak pun tiba

Dia menatap tepat di pandangku

Tak lama

Sedetik, sekejap

Tak penting

 

Dan waktu berhenti

Kami berbicara diantara deru roda dan riuh kedatangan,

sesak rindu mengapung di udara

Kami tak bersuara,

hanya pandang luapkan cerita

 

Diantara detik itu

Kami bertukar rasa lebih banyak dari semua pembicaraan terdahulu

 

Dia rindu, aku merindunya

Dia bangga atasku, aku memujanya

Dia mencintaiku, aku mencintanya

 

Diantara sekejap waktu itu

Ruh kami saling memeluk dalam

 

 

Januari 2006

::Kenangan saat Bapak Ibu tiba usai pergi haji::

 

 

Bahasa Basi

Karena saya percaya

Dan kalian tidak

 

Bahwa keluarga tidak berarti selalu ada

Dan saudara tidak harus sedarah

Bahwa logika adalah hadiah Tuhan

Dan agama tidak sekedar dogma

 

Hidup bukan realitas semu

Kesadaran adalah pilihan

 

Dan saya tetap percaya

Saat kalian tidak

 

Bahwa pilihan adalah kausalitas logika

Dan nilai terbentuk komunal

Bahwa budaya mengikat erat kuat

Hingga perlu keberanian berkata, “Tidak!”

 

Menjadi manusia utuh

Butuh tindak nyata

Sekedar doa tidaklah cukup

 

 

Januari 2007

 

 

Bukan Gulali

Getir rasa bibir

Kesatnya pangkal lidah, menyesatkan

Setan!

 

“Hidup bukan gulali, Manis.”

Miris gelayut ujung degup

Berdesir, … berhenti!

Pengap, sesak, namun hampa

 

“Asa tidak berarti realita, Bagus”

Serabut mimpi tercabut dunia

Kawan adalah lawan terdekat

Tawa adalah duka tersamar

 

Karenanya,

air mata tidak berarti lengah

 


Januari 2007

 

 

Omong Kosong

Kau sebut mereka primitif

Tanpa penghalusan rasa – sehingga mereka adalah biadab

Untukku mereka jujur, seperti adanya

 

Dan kau sebut apa diri sendiri?

Yang membungkuk dalam tingkap hormat palsu

 

Aku iri,

dengan mereka yang tertawa penuh gairah

 

 

November 2006

 

 

Titik Awal

Mari kita berlari,

             selamatkan diri

 

Sudah lama tertangkap cerita

Dunia tak nyata

Harap-harap tak ada guna

 

Mari-mari bermigrasi,

             semestinya sedari dini

 

Proses menjadi

Kesadaran yang dibeli

Sakitnya pasti

 

Kita terlahir merdeka

Dan terkutuk karenanya

 

 

November 2006

 

 

Sepi

Sepi

Menghantarkan padang panjang penuh beban

Derap kaki yang tak kunjung henti,

berlari

 

Meratapi ruang-ruang tak ada penghuni

Meringkuk, terasa penuh beban

Pekak riuh di dalam, sesak!

 

Tak ada ruang

Tak ada waktu

Tak punya diri sendiri

 

Saat harapan bercampur baur

Semburat tangis terasa biasa

Ego mulai jadi kebiasaan

Hidup dalam kebiasaan

Terbiasa dalam makian itu

Terbiasa dengan perih itu

Tangisan yang jadi biasa

 

Langit mulai menghempas

Diri makin lama makin jadi tempat tak tentu

Diri makin lama makin tak tentu

 

Lagi-lagi sepi

Tak ada arti

 

Maaf terlupa entah dimana

Tawa lagi-lagi pergi entah kemana

 

Sepi

Aku mulai terbiasa

 

 

Agustus 2006