Bukan Puisi untuk Egomu

Terbangun dengan hangatmu di sebelahku.

Kau mengerjap.

Wajahmu berantakan.

Pagi membuatmu terlihat abstrak.

Bisa jadi itu yang membuatku tersesat dan tak bisa lepas darimu.

Kau sulit dimengerti, namun merasuk dengan mudahnya.

Sehari denganmu riuh sekali.

Kentut dan sendawa menghiasi hari kita.

Teriakanmu yang gampang keluar saat kau senang, kaget dan kesal menggetarkan kalbuku. Menggugahku yang damai berleha-leha.

Kesalku buat aku bersemangat. Terasuki emosi yang sudah lama layu.

Bagimu aku permainan.

Dadaku bak gamelan. Bokongku bak bola tenis. Selangkanganku bak meja bilyard.

Aku sakit kau tertawa. Aku berontak kau menarik bibirmu sinis.

Nafsu yang lama mati kau beri nafas lagi.

Sejujurnya, bersamamu itu sulit.

Kau kasar dan menyebalkan.

Keras kepala dan sombong.

Manipulatif dan cengeng.

Kau sama persis denganku.

Dan karena aku egois sangat mencintai diriku sendiri,

aku tak punya pilihan selain mencintaimu.

Bersamamu aku terjebak.

Aku dipaksa menerima diriku sendiri apa adanya, dengan segala keburukannya.

Karena kau mencintaiku dengan segala kelemahanku,

aku menggilaimu dengan segala ketidaksempurnaanmu.

Kau dan aku adalah rumus pasti untuk prahara.

Karena cinta terlalu kecil untuk kita berempat.

[Puisi ciptaan #mbakpatjar]

Membunuh Rasa

Ini malam kesekian kali,


rasa tak bisa ditanam lebih dalam


merenggut asa,


tercabut nyata


ini malam yang lagi – lagi,

aku membunuh rasa

tanpa banyak suara



langit,


benamkan aku


dalam – dalam

Kala Langit Penuh Diam

Langit – langit dalam diam

Diam tanpa kata – kata

Kata – kata diisi sunyi

Sunyi yang kiranya berdiam diri

Langit – langit penuh diam

Diam yang terasa kawan lama

Jabat erat, peluk dekap, hidup tanpa kata – kata

Langit – langit membentak hening

Terasa sunyi tanpa kata – kata

Dan bumi yang terus menanti

Berakhir duka dalam harap sia – sia

“Bila Kau Pergi, Semua Kan Membaik.”

“Pergilah untukku saat ini

Pejamkan matamu lantas biarkan semua mengalir

Tak usah dulu kau tolehkan wajah

Semua akan baik seperti sedia

Aku akan membaik

Pergilah untukku saat ini

Tahan nafasmu lalu terbanglah bersama kenangan

Susun satu persatu hidupmu tanpaku

Tak usah gundah

Tak perlu gelisah

Hentikan sedu sedan itu

Semua kan berputar, semua kan kembali untuk kita

Dunia kan membaik

Pergilah untukku saat ini

Lepas genggaman dan ambil kembali semua pelukan

Tak ada yang tersisa, maka ambilah semua saat kau pergi

Tak ada suka

Tak kan pernah ada duka

Karenanya, tak perlu kau menoleh lagi

Semua kan seperti sedia

Semua kan kembali pada mula

Semua kan hilang

Dan semua telah membaik

Pergilah untukku saat ini, kumohon…

Dan masing-masing dari kita, aku dan kamu, kan membaik seperti awal mula.”

Kepada Perempuan yang di Kepalanya Tertancap Dua Arah Mata Angin

Denganmu, aku tak perlu menjelaskan apapun.

Mengapa kita percaya energi adalah sumber kebahagiaan sekaligus kedukaan manusia.

Bagaimana tiap orang pada dasarnya tercipta dari kebaikan, hanya luka yang seringkali menutupinya.

Bahwa mencintai tanpa prasyarat adalah selangkah lebih dekat menuju kebahagiaan.

Denganmu, aku tak harus merasa terpaksa mengubah diri.

Cintamu membebaskan, melepaskan.

Bersamaku, kaulah manusia beruntung itu.

Dan aku adalah ciptaan terindah Tuhan yang dihadirkan untukmu.

Wahai perempuan dengan dua arah mata angin di kepalanya.

Denganmu masa depan bukan gambaran kecemasan.

Ia lahir dari doa yang dikemas keberanian.

Bukan lagi bisa atau tidak, tapi sejauh apa kamu mau melangkah.

Bukan sekedar kekhawatiran atas kegagalan dan persiapan menghadapi kejatuhan.

Tapi perjuangan di setiap pagi lantas berpasrah di ujung hari.

Tak henti.

Tak peduli garangnya matahari.

Untuk perempuan dengan hati paling cantik yang pernah kutemui.

Kata tidak akan pernah cukup mengungkapkan betapa kamu adalah hadiah paling luar biasa yang pernah dihadirkan Semesta.

Segala jalan membawaku menujumu.

Setiap perjalanan berpulang kepadamu.

Untuk perempuan yang penuh berisi kasih Semesta.

Ini hatiku dalam genggaman, kuberikan untukmu.

Ini hidupku, kuberikan kepadamu.

Untukmulah aku diciptakan.