Lara

Di matamu tersimpan sunyi

Yang diarak perlahan

Di mataku kaukatakan resah

Gelombang bimbang yang mulai berhenti percaya

“Kita terlahir sendiri, berjuang sendiri. Beristirahat setelah mati,” ujarmu.

“Kau merasakanku, tapi tak cukup kuat menembusku.” Tambahmu terus terang.

Kemarahanku sekedar pertanda. Kau balas aku impas. Kita sama-sama telanjang, terlentang pasrah atas karma bernama semesta.

“Aku bisa menyelamatkanmu,” pongahku.

Kau tersenyum, menoleh kepadaku, “Untuk apa?”

Di matamu kutemukan diriku sendiri,

yang tersesat dan berharap ditemukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s