Surat Untuk Azza

Jakarta, satu jam menjelang 30 Mei 2014

Hei, kamu, Selamat Hari Lahir! 🙂

Aku tak ingat ini ulang tahunmu yang keberapa, aku tahu kamu pun tak suka diingatkan seberapa banyak umurmu sekarang. Umur hanya kumpulan angka, tanggal, yang tak bermakna apa-apa kecuali jika kita mengisinya dengan kenangan, ingatan, harapan. Mungkin seharusnya hari ulang tahun dirayakan sebagai akhiran sebuah umur, bukan awalan. Agar kita berupaya cukup keras untuk melewati setahun ke depan dengan cara sebaik mungkin, seindah mungkin. Tapi aku tahu, kamu sudah melakukannya sebaik dan seindah yang kamu mampu. Delapan bulan bersamamu cukup memperlihatkan banyak hal kepadaku, betapa kamu adalah seorang perempuan yang sungguh memesona. Penuh cinta, penuh kasih. Bahwa dua pertiga umur terakhirmu dihabiskan bersamaku, membuatku punya banyak kesempatan untuk memerhatikan bahwa kamu menghabiskannya bukan untuk hal sia-sia. Kuharap mencintaiku bukan hal sia-sia. :))

Apa rencanamu setahun ke depan? Terlepas dari segala rencanamu untuk membuat berbagai kegiatan, kelas belajar, festival, bisnis baru. Aku berharap kamu tidak melupakan rencanamu untuk terus berbahagia. Kamu terlalu sering memikirkan kesulitan orang lain dan berpikir bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Kamu cukup banyak berkorban untuk orang lain, karena buatmu kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanmu juga. Kamu menanggung begitu banyak, tapi tak pernah sekalipun mengeluh. Kamu seluar biasa itu. Tapi bisakah sejenak, malam ini ketika kamu membaca surat ini, kamu memikirkan rencana-rencana untuk dirimu sendiri? Bisakah kamu untuk kali ini, bertindak egois dan tidak memedulikan orang lain? Tidak memedulikan luka orang lain dan lebih fokus kepada bahagiamu sendiri? Bisakah kamu melakukannya malam ini, sayang?

Maaf jika aku terkesan menggurui dan sok tahu. Muridmu ini sedari dulu memang sok pintar. Aku sadar aku hanya irisan kecil dari lingkaran kehidupanmu yang begitu luas. Begitu banyak irisan-irisan di dalam kehidupanmu, padahal tubuhmu begitu mungil. Aku tak tahu seberapa lama lingkaran kehidupan kita akan saling beririsan, aku juga tak tahu seberapa dalam kita akan saling mengiris. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tak pernah menyesal bertemu denganmu. Tak ada hari yang tidak aku syukuri sejak aku berkenalan denganmu. Kamu membuatku begitu bahagia lewat jalan yang tak pernah bisa kubayangkan. Kamu mengajarkanku banyak hal. Your existence beams happiness.

Selamat Hari Lahir, Kekasih. Perempuan terindah yang pernah aku temui.

Selamat berbahagia. Semesta penuh berkat untukmu.

Perempuanmu,

Terra.

Advertisements

Mencintai Mbaknya

Ia tak suka dipaksa

Ia tak suka dipertanyakan

Ia tak suka disuruh merogoh

Ia tak suka lantai rumah terinjak sepatu

Ia tak suka candanya dibalas dengan ketus

Ia ingin aku paham,

bahwa keberadaannya sampai saat ini

adalah bukti bahwa ia mencintaku

bahwa ia masih menginginkan berdiri di sampingku.

Ia tak ingin menuruti perintah

Ketika dipaksa ia akan membuktikan bahwa ia tak bisa ditekan.

Ia bara berpijar,

api yang membakar kayu.

Ia naga,

yang tak suka keriuhan sepele buatan si tikus.

Ia adalah ia yang keras,

mencintai dengan cara yang ia yakini.

Ia adalah ia yang lembut,

mengasihi tanpa perlu diceramahi.

Mencintainya adalah proses belajarku

Mencintainya adalah cara aku mempelajari sebuah proses terjadi,

cinta yang tidak sekedar kata-kata.

Mencintai yang sekedar mencintai,

tanpa berpikir bagaimana akhir nanti

tanpa bertanya akankah bahagia sedang menanti

tanpa berpikir hal buruk yang akan terjadi.

Mencintainya adalah sebenar-benar mencintai.

Tanpa berpikir imbal kembali.

::malam terang bulan::

Jakarta, 15 Mei 2014

Bentara Bumi