Kausa

Aku menulis untuk meluruhkan beban bukan melupakan.
Karena ingatan adalah taji terdalam ciptaan manusia.
Semakin kau menariknya semakin kuat cengkeramannya.

 

Aku menulis untuk menghayati ketiadaan bukan melupakan.
Sebab kesadaran mesti dijejakkan di atas bumi baru ia bisa berjalan.
Tidak meminta atau menolak, hanya melihat dan memperhatikan.

 

Aku menulis bukan untuk mengingat kesedihan ataupun melupakan.
Karena rasa bukanlah diri dan butuh berdiam diri untuk mengingat diri yang sebenar-benar diri.
Aku menulis untuk mengingat diriku sendiri.

 

Aku menulis untuk melepaskan bukan melupakan.
Karena tak ada yang bisa musnah di belantara semesta.
Karenanya, melupakan adalah perbuatan sia-sia.

 

Aku menulis untuk mengingat pilihan perjalanan yang direncanakan.
Karena menjadi manusia adalah soalan mengalami.

Memahami perjalanan yang diniatkan sejak awal mula.
 

Aku menulis untuk mencintai.
Menampung cinta kasih semesta dalam cawan kesadaran;
untuk kemudian mereguknya lahap, tandas, penuh berkat bahagia.

 
 

Advertisements

Kepada Mata Beruntai Semesta

Aku harus mengatakan bahwa terangmu meredupkan sepimu. Aku mendatangimu bukan tertarik oleh kesepian di sudut matamu, tapi cahaya terang yang selubungi jiwamu. Jiwaku resah mencari hangat dan di dalam mata yang mengumpul sepi, aku menemukan rumah tempat berpulang.


Aku mencintaimu bukan untuk menaklukkanmu. Hatiku bongkahan batu dengan bilur penuh cemas. Aku penyamun yang kehilangan dirinya sendiri dan menculik gadis perawan untuk minta diselamatkan. Aku pengembara yang merindukan cinta dan berharap dipuja-puja.


Malam ini aku sadar. Segala inginku percuma sebab anganku tak sejalan lakuku. Kehilanganmu menyadarkanku bahwa tak ada yang bisa menjadi jangkar kecuali diriku sendiri. Denganmu aku hilang arah, tapi aku telah tersesat jauh sebelum kepergianmu.


Kini malam adalah penanda kepergianmu dan pagi kembali menjadi hari, bukan lagi senyum manismu. Aku berjalan menuju matahari untuk menemukan kembali senyummu meski itu berarti membakar diriku sendiri. Cintamu berharga dan aku kehilanganmu. Senyummu bahagia dan aku masih menyimpan pendar mata milikmu. Sebagai pengingat seorang perempuan mencintaiku dalam bahkan saat mataku terpejam.


Semoga kutemukan kau kembali. Semoga hidup mempertemukan kita kembali. Sebab hidupku berputar dalam cerita menemukanmu dan terlelap di dalam pelukanmu.


Engkaulah segala pertanda keabadian. Engkaulah penanda kebahagiaan. Di matamu hidup penuh tanda kesempurnaan.