Kepada Mata Beruntai Semesta

Aku harus mengatakan bahwa terangmu meredupkan sepimu. Aku mendatangimu bukan tertarik oleh kesepian di sudut matamu, tapi cahaya terang yang selubungi jiwamu. Jiwaku resah mencari hangat dan di dalam mata yang mengumpul sepi, aku menemukan rumah tempat berpulang.


Aku mencintaimu bukan untuk menaklukkanmu. Hatiku bongkahan batu dengan bilur penuh cemas. Aku penyamun yang kehilangan dirinya sendiri dan menculik gadis perawan untuk minta diselamatkan. Aku pengembara yang merindukan cinta dan berharap dipuja-puja.


Malam ini aku sadar. Segala inginku percuma sebab anganku tak sejalan lakuku. Kehilanganmu menyadarkanku bahwa tak ada yang bisa menjadi jangkar kecuali diriku sendiri. Denganmu aku hilang arah, tapi aku telah tersesat jauh sebelum kepergianmu.


Kini malam adalah penanda kepergianmu dan pagi kembali menjadi hari, bukan lagi senyum manismu. Aku berjalan menuju matahari untuk menemukan kembali senyummu meski itu berarti membakar diriku sendiri. Cintamu berharga dan aku kehilanganmu. Senyummu bahagia dan aku masih menyimpan pendar mata milikmu. Sebagai pengingat seorang perempuan mencintaiku dalam bahkan saat mataku terpejam.


Semoga kutemukan kau kembali. Semoga hidup mempertemukan kita kembali. Sebab hidupku berputar dalam cerita menemukanmu dan terlelap di dalam pelukanmu.


Engkaulah segala pertanda keabadian. Engkaulah penanda kebahagiaan. Di matamu hidup penuh tanda kesempurnaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s