Ra

Bagaimana memastikan bahwa kau adalah jawaban doa dan bukan marabahaya?
Tentu saja, segalanya terkait ruang pandang.
Berkah atau jalan buntu,
pembelajaran atau tamparan keras di tulang pipi.

Aku ingin memastikan kita punya jatah waktu dan tempat.
Aku ingin memanjat menara takdir dan menggedor pintunya keras-keras,
“Bang! Bang! Bang!”
Menuliskan namamu dan namaku menjadi kita dalam kuncian jodoh semesta.

Aku melihatmu tertawa, salah, aku mendengarmu tertawa. Bukan!
Aku membayangkanmu tertawa melihat kenaifanku menggerayangi sia-sia langit yang penuh kuasa.
“Kita tidak pernah ada apalagi menjadi nyata,” di kepalamu jalan cerita bergulir tentang Bumi yang mengejar Matahari tanpa hasil.

“Sebentar, sebentar, sebentar,” kataku, “namamu bulan tapi kamu matahari. Penggalan nama depanmu tanpa kamu sadar adalah mukadimah segala doa untuk Matahari yang menghidupi Bumi.
-Bumi seromantis itu ketika jatuh cinta-
Kamu tidak sadar setiap aku memanggilmu, aku mengucap doa untukmu bagiku engkauku akumu.”

Badai tiba. Gelegar petir menakutkan anak-anak kucing di dalam rumah.
Aku bersiap menghadapi banjir sambil berpikir seandainya air bisa menghapus segala luka dan kenangan, aku tetap tak ingin melupakanmu.

Jakarta, 19 Oktober 2017
Bentara Bumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s