Bukan Puisi untuk Egomu

Terbangun dengan hangatmu di sebelahku.

Kau mengerjap.

Wajahmu berantakan.

Pagi membuatmu terlihat abstrak.

Bisa jadi itu yang membuatku tersesat dan tak bisa lepas darimu.

Kau sulit dimengerti, namun merasuk dengan mudahnya.

Sehari denganmu riuh sekali.

Kentut dan sendawa menghiasi hari kita.

Teriakanmu yang gampang keluar saat kau senang, kaget dan kesal menggetarkan kalbuku. Menggugahku yang damai berleha-leha.

Kesalku buat aku bersemangat. Terasuki emosi yang sudah lama layu.

Bagimu aku permainan.

Dadaku bak gamelan. Bokongku bak bola tenis. Selangkanganku bak meja bilyard.

Aku sakit kau tertawa. Aku berontak kau menarik bibirmu sinis.

Nafsu yang lama mati kau beri nafas lagi.

Sejujurnya, bersamamu itu sulit.

Kau kasar dan menyebalkan.

Keras kepala dan sombong.

Manipulatif dan cengeng.

Kau sama persis denganku.

Dan karena aku egois sangat mencintai diriku sendiri,

aku tak punya pilihan selain mencintaimu.

Bersamamu aku terjebak.

Aku dipaksa menerima diriku sendiri apa adanya, dengan segala keburukannya.

Karena kau mencintaiku dengan segala kelemahanku,

aku menggilaimu dengan segala ketidaksempurnaanmu.

Kau dan aku adalah rumus pasti untuk prahara.

Karena cinta terlalu kecil untuk kita berempat.

[Puisi ciptaan #mbakpatjar]