Menuju Terang

Perhatian, perhatian!
Anda memasuki dunia kegelapan
Silakan duduk manis, kencangkan ikat pinggang,
sambil menggengam tangan orang yang anda sayang
Selamat menikmati perjalanan dan terima kasih!

=====

Dalam gelap kau tak perlu mencari terang
Seringkali memang banyak suara lantang,
beserta pikiran-pikiran yang tak mau duduk tenang

Tapi mari kuberitahu
Gelap bukanlah batasan atau kesimpulan
Ia menjadi landasan, titik tolak menuju kebangkitan

Dalam gelap kau tak perlu buru-buru mencari terang
Sebab gelap menyimpan ruang lengang, jeda panjang,
dan kesempatan-kesempatan penuh lapang
Tempat di mana engkau menemui dirimu sendiri
Tentang siapa engkau, darimana engkau berasal, dan mau kemana kau berjalan
Setelahnya, meledaklah penuh kesadaran!

Karena aku bukanlah gelapku!
Aku bukan masa laluku, kesalahan-kesalahanku
Aku bukan bekas luka di sekujur tubuhku,
terutama kedua lengan bahuku
Aku bukan monster atau benda tajam yang kusimpan diam-diam
dalam kantong kecil di pojokan ranselku
Aku bukan jumlah followersku atau mantan-mantan kekasihku
Aku bukan jumlah hutang kartu kreditku, gaji, atau tabunganku
Aku bukan suara-suara lantang penuh kemarahan di dalam kepalaku
Aku bukan panic attack, depresi menahun, atau percobaan-percobaan bunuh diriku
Aku bukan cerita kejatuhanku
Aku bukan kegelapan di dalam tubuhku
Aku bukan ketakutan-ketakutanku

Aku adalah terang di dalam gelapku
Aku adalah mimpi asa masa depan, harap-harapanku
Aku adalah langkah kaki tertatih, berjalan, berderap penuh keberanian
Aku adalah pelukan-pelukan yang luruhkan kesepian
Aku adalah tumpukan pesan, penuh kasih terima kasih,
dari mereka yang merasa tak sendiri, tak jadi bunuh diri, karena membaca tulisanku
Aku adalah bulir doa bapak ibuku, sahabat karib, dan mereka yang bahkan belum pernah kutemui
Aku adalah tangan yang menggapai terang saat jatuh ke dalam jurang
Aku adalah hening di dalam tubuhku
Aku adalah terang yang melampaui gelapku
Aku adalah bait-bait puisiku,
jiwaku berlari menari di dalam puisi
Dan aku berjanji tak akan pernah berhenti

=====

Perhatian-perhatian, perjalanan telah usai
Dunia kegelapan terlewati
Anda berada di titik terang
Terima kasih telah mendengarkan dengan hati
Selamat menikmati akhir pekan dan Semesta memberkati!

Jakarta, 5 Agustus 2017

Titik Nelangsa

Berjalan sudah tak bisa.
Bertahan tak punya guna.
Saatnya melepaskan.

 

Berharap hanya perparah perih.
Mengejar yang tak ingin dikejar.
Saatnya merelakan.

 

Masa di mana mencinta berarti membebaskan.
Sebab bersama berarti luka.

 

Di titik nelangsa namamu terselip di antara doa.

 
 

Kausa

Aku menulis untuk meluruhkan beban bukan melupakan.
Karena ingatan adalah taji terdalam ciptaan manusia.
Semakin kau menariknya semakin kuat cengkeramannya.

 

Aku menulis untuk menghayati ketiadaan bukan melupakan.
Sebab kesadaran mesti dijejakkan di atas bumi baru ia bisa berjalan.
Tidak meminta atau menolak, hanya melihat dan memperhatikan.

 

Aku menulis bukan untuk mengingat kesedihan ataupun melupakan.
Karena rasa bukanlah diri dan butuh berdiam diri untuk mengingat diri yang sebenar-benar diri.
Aku menulis untuk mengingat diriku sendiri.

 

Aku menulis untuk melepaskan bukan melupakan.
Karena tak ada yang bisa musnah di belantara semesta.
Karenanya, melupakan adalah perbuatan sia-sia.

 

Aku menulis untuk mengingat pilihan perjalanan yang direncanakan.
Karena menjadi manusia adalah soalan mengalami.

Memahami perjalanan yang diniatkan sejak awal mula.
 

Aku menulis untuk mencintai.
Menampung cinta kasih semesta dalam cawan kesadaran;
untuk kemudian mereguknya lahap, tandas, penuh berkat bahagia.

 
 

Kepada Mata Beruntai Semesta

Aku harus mengatakan bahwa terangmu meredupkan sepimu. Aku mendatangimu bukan tertarik oleh kesepian di sudut matamu, tapi cahaya terang yang selubungi jiwamu. Jiwaku resah mencari hangat dan di dalam mata yang mengumpul sepi, aku menemukan rumah tempat berpulang.


Aku mencintaimu bukan untuk menaklukkanmu. Hatiku bongkahan batu dengan bilur penuh cemas. Aku penyamun yang kehilangan dirinya sendiri dan menculik gadis perawan untuk minta diselamatkan. Aku pengembara yang merindukan cinta dan berharap dipuja-puja.


Malam ini aku sadar. Segala inginku percuma sebab anganku tak sejalan lakuku. Kehilanganmu menyadarkanku bahwa tak ada yang bisa menjadi jangkar kecuali diriku sendiri. Denganmu aku hilang arah, tapi aku telah tersesat jauh sebelum kepergianmu.


Kini malam adalah penanda kepergianmu dan pagi kembali menjadi hari, bukan lagi senyum manismu. Aku berjalan menuju matahari untuk menemukan kembali senyummu meski itu berarti membakar diriku sendiri. Cintamu berharga dan aku kehilanganmu. Senyummu bahagia dan aku masih menyimpan pendar mata milikmu. Sebagai pengingat seorang perempuan mencintaiku dalam bahkan saat mataku terpejam.


Semoga kutemukan kau kembali. Semoga hidup mempertemukan kita kembali. Sebab hidupku berputar dalam cerita menemukanmu dan terlelap di dalam pelukanmu.


Engkaulah segala pertanda keabadian. Engkaulah penanda kebahagiaan. Di matamu hidup penuh tanda kesempurnaan.

Tubuhku Bukan Neraka

Di tubuhku hidup para setan penghisap kebahagiaan

Mereka tumbuh dari rasa sakit dan kemarahan

Tentu saja mereka tak suka aku bahagia

Kebahagiaan musnahkan mereka

 

Para setan ini berteman dengan setan-setan lain,

di tubuh orang lain

Untuk beranak pinak mereka bekerja bersama

Mendekatkan orang-orang dengan kepedihan yang sama,

luka, dan kemarahan yang serupa.

 

Karena banyak orang ingin bahagia namun mereka memilih sebaliknya

Ada yang tidak sadar melakukannya

Ada yang tidak mau meyakininya

Ada yang percaya mereka tidak berhak merasa bahagia

Bagi beberapa orang,

rasa sakit membuat mereka merasa hidup

 

Tapi tubuhku bukan neraka

Di dalamnya tumbuh iman,

yang tak lekang oleh panas

Harapan atas penghidupan yang baik

Gelanggang pertempuran dengan bahagia menjadi pemenang

 

Tubuhku bukan neraka

Ia surga yang menjadi rumah jawaban

Akhir segala pencarian panjang

 
 

Maafkan Dirimu dan Kebodohanmu

Ya, saat ini mungkin kau tak punya apa-apa

untuk diperlihatkan kepada mereka,

bahkan mungkin kau masih terlihat ada di tempat yang sama

Mereka tidak tahu

Mereka tidak perlu tahu

Saat kau berdiri di tempat yang sama,

kau baru saja bangkit setelah menabrak tembok untuk kesekian kali

Dan mereka tidak perlu mengerti,

karena kau pun berjuang keras untuk mengerti dirimu sendiri

Mereka bisa saja berkata,

kau terlalu malas dan keras kepala

Bahwa kau terlalu arogan, tidak segera belajar, dan menjadi dewasa

Dan bisa jadi semua hal yang mereka katakan tentang dirimu itu benar

Bahwa itu adalah kenyataan

Tapi tiap kenyataan tidak harus berarti abadi

Mungkin kau punya terlalu banyak alasan dan menyalahkan orang lain

Mungkin benar kau pemalas bodoh yang sombong

Bisa jadi kau punya terlalu banyak monster di dalam kepalamu

Kau tahu itu semua benar,

karena seumur hidup kau berjuang melawan mereka

Jadi,

maafkan saja dirimu dan semua kebodohanmu

Ketidakmengertianmu atas segala yang terjadi

Maafkan dirimu sendiri dan berjalanlah

Karena masa depan cerah tidak terlalu dekat terlihat

Tapi, toh, kau masih terus berjalan.

Terseok, tak mengapa.

Selama api itu masih menyala.

Seumur hidup mungkin kau akan terus gagal

Tapi kau tahu, kau tak pernah berhenti dan menyerah

Tidak sekali pun

Maafkan dirimu dan kebodohanmu

Berjalanlah

Semesta memberkatimu penuh