Hujan di Bulan

:untuk R

Ada banyak cara merekat jarak antara langit kotaku dan pantai pulaumu.
Menarik larik lembayung senja misalnya;
kupancang ia kuat, di depan rumahku ia terlihat, sembari mengingat senyummu lekat.

Aku menghitung waktu pertemuan seiring terbit purnama dan bulan mati,
jatuh cinta lalu patah hati.
Mengenal perih buatku mengerti,
ada kasih yang tak semerta-merta berarti mencintai.

Di langit kita bertemu.
Angkasa berisi kemungkinan tanpa batas.
Mencintai adalah melepas ikatan ingatan atas jarak dan harapan.
Kupintal doa bertulis namamu dan mengecup keningmu pelan.

Serbuk semesta menggenang kenangan.
Hujan di bulan,
aku ingin melupakanmu perlahan-lahan.

Jakarta, 4 Agustus 2017

Advertisements

Selena

Seperti demam yang bisa kulupakan tingginya,
namun pegalnya setia menggantung pundakku.

Aku mencarimu,
di sudut pandang
di pojok ruang
di dering notifikasi.

Kamu selalu berkata,
“aku ada, di sini, tak kemana.”
Namun aku tak menemukanmu dekat atau mengetuk pintu kamarku.

Meja pajang di ruang tamuku kosong.
Aku ingin meletakkan cintamu di sana.

Jakarta, 4 Juni 2017

Damba

Kita bertaruh tentang waktu dan jumlah,
berbicara batas perasaan
Kukatakan padamu langit Jakarta indah di waktu malam

Kalimat sopan, tanda baca tanpa cela
Khayal semu disemat dalam jarak antar kata
Pelan ikuti batas garis mati

Sampai kapan kita bertahan?
Permainan ini murah tanpa bayaran atau harapan
Gelap terbit dan aku bukan diriku sendiri

Apakah cinta pantas untukku?
Banyak tanya meluncur, bibir mungilmu gementar,
dan pandangku terantuk lama sekali

Wahai puan penuh damba ingin tahu,
denganmu aku menyunting diriku sendiri
Kita takkan ke mana,
meski aku tak menolak jika kau meminta

Menuju Terang

Perhatian, perhatian!
Anda memasuki dunia kegelapan
Silakan duduk manis, kencangkan ikat pinggang,
sambil menggengam tangan orang yang anda sayang
Selamat menikmati perjalanan dan terima kasih!

=====

Dalam gelap kau tak perlu mencari terang
Seringkali memang banyak suara lantang,
beserta pikiran-pikiran yang tak mau duduk tenang

Tapi mari kuberitahu
Gelap bukanlah batasan atau kesimpulan
Ia menjadi landasan, titik tolak menuju kebangkitan

Dalam gelap kau tak perlu buru-buru mencari terang
Sebab gelap menyimpan ruang lengang, jeda panjang,
dan kesempatan-kesempatan penuh lapang
Tempat di mana engkau menemui dirimu sendiri
Tentang siapa engkau, darimana engkau berasal, dan mau kemana kau berjalan
Setelahnya, meledaklah penuh kesadaran!

Karena aku bukanlah gelapku!
Aku bukan masa laluku, kesalahan-kesalahanku
Aku bukan bekas luka di sekujur tubuhku,
terutama kedua lengan bahuku
Aku bukan monster atau benda tajam yang kusimpan diam-diam
dalam kantong kecil di pojokan ranselku
Aku bukan jumlah followersku atau mantan-mantan kekasihku
Aku bukan jumlah hutang kartu kreditku, gaji, atau tabunganku
Aku bukan suara-suara lantang penuh kemarahan di dalam kepalaku
Aku bukan panic attack, depresi menahun, atau percobaan-percobaan bunuh diriku
Aku bukan cerita kejatuhanku
Aku bukan kegelapan di dalam tubuhku
Aku bukan ketakutan-ketakutanku

Aku adalah terang di dalam gelapku
Aku adalah mimpi asa masa depan, harap-harapanku
Aku adalah langkah kaki tertatih, berjalan, berderap penuh keberanian
Aku adalah pelukan-pelukan yang luruhkan kesepian
Aku adalah tumpukan pesan, penuh kasih terima kasih,
dari mereka yang merasa tak sendiri, tak jadi bunuh diri, karena membaca tulisanku
Aku adalah bulir doa bapak ibuku, sahabat karib, dan mereka yang bahkan belum pernah kutemui
Aku adalah tangan yang menggapai terang saat jatuh ke dalam jurang
Aku adalah hening di dalam tubuhku
Aku adalah terang yang melampaui gelapku
Aku adalah bait-bait puisiku,
jiwaku berlari menari di dalam puisi
Dan aku berjanji tak akan pernah berhenti

=====

Perhatian-perhatian, perjalanan telah usai
Dunia kegelapan terlewati
Anda berada di titik terang
Terima kasih telah mendengarkan dengan hati
Selamat menikmati akhir pekan dan Semesta memberkati!

Jakarta, 5 Agustus 2017

Titik Nelangsa

Berjalan sudah tak bisa.
Bertahan tak punya guna.
Saatnya melepaskan.

 

Berharap hanya perparah perih.
Mengejar yang tak ingin dikejar.
Saatnya merelakan.

 

Masa di mana mencinta berarti membebaskan.
Sebab bersama berarti luka.

 

Di titik nelangsa namamu terselip di antara doa.

 
 

Kausa

Aku menulis untuk meluruhkan beban bukan melupakan.
Karena ingatan adalah taji terdalam ciptaan manusia.
Semakin kau menariknya semakin kuat cengkeramannya.

 

Aku menulis untuk menghayati ketiadaan bukan melupakan.
Sebab kesadaran mesti dijejakkan di atas bumi baru ia bisa berjalan.
Tidak meminta atau menolak, hanya melihat dan memperhatikan.

 

Aku menulis bukan untuk mengingat kesedihan ataupun melupakan.
Karena rasa bukanlah diri dan butuh berdiam diri untuk mengingat diri yang sebenar-benar diri.
Aku menulis untuk mengingat diriku sendiri.

 

Aku menulis untuk melepaskan bukan melupakan.
Karena tak ada yang bisa musnah di belantara semesta.
Karenanya, melupakan adalah perbuatan sia-sia.

 

Aku menulis untuk mengingat pilihan perjalanan yang direncanakan.
Karena menjadi manusia adalah soalan mengalami.

Memahami perjalanan yang diniatkan sejak awal mula.
 

Aku menulis untuk mencintai.
Menampung cinta kasih semesta dalam cawan kesadaran;
untuk kemudian mereguknya lahap, tandas, penuh berkat bahagia.

 
 

Kepada Mata Beruntai Semesta

Aku harus mengatakan bahwa terangmu meredupkan sepimu. Aku mendatangimu bukan tertarik oleh kesepian di sudut matamu, tapi cahaya terang yang selubungi jiwamu. Jiwaku resah mencari hangat dan di dalam mata yang mengumpul sepi, aku menemukan rumah tempat berpulang.


Aku mencintaimu bukan untuk menaklukkanmu. Hatiku bongkahan batu dengan bilur penuh cemas. Aku penyamun yang kehilangan dirinya sendiri dan menculik gadis perawan untuk minta diselamatkan. Aku pengembara yang merindukan cinta dan berharap dipuja-puja.


Malam ini aku sadar. Segala inginku percuma sebab anganku tak sejalan lakuku. Kehilanganmu menyadarkanku bahwa tak ada yang bisa menjadi jangkar kecuali diriku sendiri. Denganmu aku hilang arah, tapi aku telah tersesat jauh sebelum kepergianmu.


Kini malam adalah penanda kepergianmu dan pagi kembali menjadi hari, bukan lagi senyum manismu. Aku berjalan menuju matahari untuk menemukan kembali senyummu meski itu berarti membakar diriku sendiri. Cintamu berharga dan aku kehilanganmu. Senyummu bahagia dan aku masih menyimpan pendar mata milikmu. Sebagai pengingat seorang perempuan mencintaiku dalam bahkan saat mataku terpejam.


Semoga kutemukan kau kembali. Semoga hidup mempertemukan kita kembali. Sebab hidupku berputar dalam cerita menemukanmu dan terlelap di dalam pelukanmu.


Engkaulah segala pertanda keabadian. Engkaulah penanda kebahagiaan. Di matamu hidup penuh tanda kesempurnaan.