Mencintai Mbaknya

Ia tak suka dipaksa

Ia tak suka dipertanyakan

Ia tak suka disuruh merogoh

Ia tak suka lantai rumah terinjak sepatu

Ia tak suka candanya dibalas dengan ketus

Ia ingin aku paham,

bahwa keberadaannya sampai saat ini

adalah bukti bahwa ia mencintaku

bahwa ia masih menginginkan berdiri di sampingku.

Ia tak ingin menuruti perintah

Ketika dipaksa ia akan membuktikan bahwa ia tak bisa ditekan.

Ia bara berpijar,

api yang membakar kayu.

Ia naga,

yang tak suka keriuhan sepele buatan si tikus.

Ia adalah ia yang keras,

mencintai dengan cara yang ia yakini.

Ia adalah ia yang lembut,

mengasihi tanpa perlu diceramahi.

Mencintainya adalah proses belajarku

Mencintainya adalah cara aku mempelajari sebuah proses terjadi,

cinta yang tidak sekedar kata-kata.

Mencintai yang sekedar mencintai,

tanpa berpikir bagaimana akhir nanti

tanpa bertanya akankah bahagia sedang menanti

tanpa berpikir hal buruk yang akan terjadi.

Mencintainya adalah sebenar-benar mencintai.

Tanpa berpikir imbal kembali.

::malam terang bulan::

Jakarta, 15 Mei 2014

Bentara Bumi

Did I Not Say To You

Did I not say to you, “Go not there, for I am your friend; in this

mirage of annihilation I am the fountain of life?”

Even though in anger you depart a hundred thousand years

from me, in the end you will come to me, for I am your goal.

Did I not say to you, “Be not content with worldly forms, for I

am the fashioner of the tabernacle of your contentment?”

Did I not say to you, “I am the sea and you are a single fish;

go not to dry land, for I am your crystal sea?”

Did I not say to you, “ Go not like birds to the snare; come, for

I am the power of flight and your wings and feet?”

Did I not say to you, “ They will waylay you and make you

cold, for I am the fire and warmth and heat of your desire?”

Did I not say to you, “ They will implant in you ugly qualities

so that you will forget that I am the source of purity to you?”

Did I not say to you, “Do not say from what direction the ser-

vant’s affairs come into order?” I am the Creator without

directions.

If you are the lamp of the heart, know where the road is to the

house; and if you are godlike of attribute, know that I am your

Maser.

Mewlana Jalaluddin Rumi

Bukan Puisi untuk Egomu

Terbangun dengan hangatmu di sebelahku.

Kau mengerjap.

Wajahmu berantakan.

Pagi membuatmu terlihat abstrak.

Bisa jadi itu yang membuatku tersesat dan tak bisa lepas darimu.

Kau sulit dimengerti, namun merasuk dengan mudahnya.

Sehari denganmu riuh sekali.

Kentut dan sendawa menghiasi hari kita.

Teriakanmu yang gampang keluar saat kau senang, kaget dan kesal menggetarkan kalbuku. Menggugahku yang damai berleha-leha.

Kesalku buat aku bersemangat. Terasuki emosi yang sudah lama layu.

Bagimu aku permainan.

Dadaku bak gamelan. Bokongku bak bola tenis. Selangkanganku bak meja bilyard.

Aku sakit kau tertawa. Aku berontak kau menarik bibirmu sinis.

Nafsu yang lama mati kau beri nafas lagi.

Sejujurnya, bersamamu itu sulit.

Kau kasar dan menyebalkan.

Keras kepala dan sombong.

Manipulatif dan cengeng.

Kau sama persis denganku.

Dan karena aku egois sangat mencintai diriku sendiri,

aku tak punya pilihan selain mencintaimu.

Bersamamu aku terjebak.

Aku dipaksa menerima diriku sendiri apa adanya, dengan segala keburukannya.

Karena kau mencintaiku dengan segala kelemahanku,

aku menggilaimu dengan segala ketidaksempurnaanmu.

Kau dan aku adalah rumus pasti untuk prahara.

Karena cinta terlalu kecil untuk kita berempat.

[Puisi ciptaan #mbakpatjar]

Membunuh Rasa

Ini malam kesekian kali,


rasa tak bisa ditanam lebih dalam


merenggut asa,


tercabut nyata


ini malam yang lagi – lagi,

aku membunuh rasa

tanpa banyak suara



langit,


benamkan aku


dalam – dalam

Kala Langit Penuh Diam

Langit – langit dalam diam

Diam tanpa kata – kata

Kata – kata diisi sunyi

Sunyi yang kiranya berdiam diri

Langit – langit penuh diam

Diam yang terasa kawan lama

Jabat erat, peluk dekap, hidup tanpa kata – kata

Langit – langit membentak hening

Terasa sunyi tanpa kata – kata

Dan bumi yang terus menanti

Berakhir duka dalam harap sia – sia