Maafkan Dirimu dan Kebodohanmu

Ya, saat ini mungkin kau tak punya apa-apa

untuk diperlihatkan kepada mereka,

bahkan mungkin kau masih terlihat ada di tempat yang sama

Mereka tidak tahu

Mereka tidak perlu tahu

Saat kau berdiri di tempat yang sama,

kau baru saja bangkit setelah menabrak tembok untuk kesekian kali

Dan mereka tidak perlu mengerti,

karena kau pun berjuang keras untuk mengerti dirimu sendiri

Mereka bisa saja berkata,

kau terlalu malas dan keras kepala

Bahwa kau terlalu arogan, tidak segera belajar, dan menjadi dewasa

Dan bisa jadi semua hal yang mereka katakan tentang dirimu itu benar

Bahwa itu adalah kenyataan

Tapi tiap kenyataan tidak harus berarti abadi

Mungkin kau punya terlalu banyak alasan dan menyalahkan orang lain

Mungkin benar kau pemalas bodoh yang sombong

Bisa jadi kau punya terlalu banyak monster di dalam kepalamu

Kau tahu itu semua benar,

karena seumur hidup kau berjuang melawan mereka

Jadi,

maafkan saja dirimu dan semua kebodohanmu

Ketidakmengertianmu atas segala yang terjadi

Maafkan dirimu sendiri dan berjalanlah

Karena masa depan cerah tidak terlalu dekat terlihat

Tapi, toh, kau masih terus berjalan.

Terseok, tak mengapa.

Selama api itu masih menyala.

Seumur hidup mungkin kau akan terus gagal

Tapi kau tahu, kau tak pernah berhenti dan menyerah

Tidak sekali pun

Maafkan dirimu dan kebodohanmu

Berjalanlah

Semesta memberkatimu penuh

Surat Untuk Azza

Jakarta, satu jam menjelang 30 Mei 2014

Hei, kamu, Selamat Hari Lahir! πŸ™‚

Aku tak ingat ini ulang tahunmu yang keberapa, aku tahu kamu pun tak suka diingatkan seberapa banyak umurmu sekarang. Umur hanya kumpulan angka, tanggal, yang tak bermakna apa-apa kecuali jika kita mengisinya dengan kenangan, ingatan, harapan. Mungkin seharusnya hari ulang tahun dirayakan sebagai akhiran sebuah umur, bukan awalan. Agar kita berupaya cukup keras untuk melewati setahun ke depan dengan cara sebaik mungkin, seindah mungkin. Tapi aku tahu, kamu sudah melakukannya sebaik dan seindah yang kamu mampu. Delapan bulan bersamamu cukup memperlihatkan banyak hal kepadaku, betapa kamu adalah seorang perempuan yang sungguh memesona. Penuh cinta, penuh kasih. Bahwa dua pertiga umur terakhirmu dihabiskan bersamaku, membuatku punya banyak kesempatan untuk memerhatikan bahwa kamu menghabiskannya bukan untuk hal sia-sia. Kuharap mencintaiku bukan hal sia-sia. :))

Apa rencanamu setahun ke depan? Terlepas dari segala rencanamu untuk membuat berbagai kegiatan, kelas belajar, festival, bisnis baru. Aku berharap kamu tidak melupakan rencanamu untuk terus berbahagia. Kamu terlalu sering memikirkan kesulitan orang lain dan berpikir bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Kamu cukup banyak berkorban untuk orang lain, karena buatmu kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanmu juga. Kamu menanggung begitu banyak, tapi tak pernah sekalipun mengeluh. Kamu seluar biasa itu. Tapi bisakah sejenak, malam ini ketika kamu membaca surat ini, kamu memikirkan rencana-rencana untuk dirimu sendiri? Bisakah kamu untuk kali ini, bertindak egois dan tidak memedulikan orang lain? Tidak memedulikan luka orang lain dan lebih fokus kepada bahagiamu sendiri? Bisakah kamu melakukannya malam ini, sayang?

Maaf jika aku terkesan menggurui dan sok tahu. Muridmu ini sedari dulu memang sok pintar. Aku sadar aku hanya irisan kecil dari lingkaran kehidupanmu yang begitu luas. Begitu banyak irisan-irisan di dalam kehidupanmu, padahal tubuhmu begitu mungil. Aku tak tahu seberapa lama lingkaran kehidupan kita akan saling beririsan, aku juga tak tahu seberapa dalam kita akan saling mengiris. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tak pernah menyesal bertemu denganmu. Tak ada hari yang tidak aku syukuri sejak aku berkenalan denganmu. Kamu membuatku begitu bahagia lewat jalan yang tak pernah bisa kubayangkan. Kamu mengajarkanku banyak hal. Your existence beams happiness.

Selamat Hari Lahir, Kekasih. Perempuan terindah yang pernah aku temui.

Selamat berbahagia. Semesta penuh berkat untukmu.

Perempuanmu,

Terra.

Mencintai Mbaknya

Ia tak suka dipaksa

Ia tak suka dipertanyakan

Ia tak suka disuruh merogoh

Ia tak suka lantai rumah terinjak sepatu

Ia tak suka candanya dibalas dengan ketus

Ia ingin aku paham,

bahwa keberadaannya sampai saat ini

adalah bukti bahwa ia mencintaku

bahwa ia masih menginginkan berdiri di sampingku.

Ia tak ingin menuruti perintah

Ketika dipaksa ia akan membuktikan bahwa ia tak bisa ditekan.

Ia bara berpijar,

api yang membakar kayu.

Ia naga,

yang tak suka keriuhan sepele buatan si tikus.

Ia adalah ia yang keras,

mencintai dengan cara yang ia yakini.

Ia adalah ia yang lembut,

mengasihi tanpa perlu diceramahi.

Mencintainya adalah proses belajarku

Mencintainya adalah cara aku mempelajari sebuah proses terjadi,

cinta yang tidak sekedar kata-kata.

Mencintai yang sekedar mencintai,

tanpa berpikir bagaimana akhir nanti

tanpa bertanya akankah bahagia sedang menanti

tanpa berpikir hal buruk yang akan terjadi.

Mencintainya adalah sebenar-benar mencintai.

Tanpa berpikir imbal kembali.

::malam terang bulan::

Jakarta, 15 Mei 2014

Bentara Bumi

Did I Not Say To You

Did I not say to you, β€œGo not there, for I am your friend; in this

mirage of annihilation I am the fountain of life?”

Even though in anger you depart a hundred thousand years

from me, in the end you will come to me, for I am your goal.

Did I not say to you, β€œBe not content with worldly forms, for I

am the fashioner of the tabernacle of your contentment?”

Did I not say to you, β€œI am the sea and you are a single fish;

go not to dry land, for I am your crystal sea?”

Did I not say to you, β€œ Go not like birds to the snare; come, for

I am the power of flight and your wings and feet?”

Did I not say to you, β€œ They will waylay you and make you

cold, for I am the fire and warmth and heat of your desire?”

Did I not say to you, β€œ They will implant in you ugly qualities

so that you will forget that I am the source of purity to you?”

Did I not say to you, β€œDo not say from what direction the ser-

vant’s affairs come into order?” I am the Creator without

directions.

If you are the lamp of the heart, know where the road is to the

house; and if you are godlike of attribute, know that I am your

Maser.

Mewlana Jalaluddin Rumi

Bukan Puisi untuk Egomu

Terbangun dengan hangatmu di sebelahku.

Kau mengerjap.

Wajahmu berantakan.

Pagi membuatmu terlihat abstrak.

Bisa jadi itu yang membuatku tersesat dan tak bisa lepas darimu.

Kau sulit dimengerti, namun merasuk dengan mudahnya.

Sehari denganmu riuh sekali.

Kentut dan sendawa menghiasi hari kita.

Teriakanmu yang gampang keluar saat kau senang, kaget dan kesal menggetarkan kalbuku. Menggugahku yang damai berleha-leha.

Kesalku buat aku bersemangat. Terasuki emosi yang sudah lama layu.

Bagimu aku permainan.

Dadaku bak gamelan. Bokongku bak bola tenis. Selangkanganku bak meja bilyard.

Aku sakit kau tertawa. Aku berontak kau menarik bibirmu sinis.

Nafsu yang lama mati kau beri nafas lagi.

Sejujurnya, bersamamu itu sulit.

Kau kasar dan menyebalkan.

Keras kepala dan sombong.

Manipulatif dan cengeng.

Kau sama persis denganku.

Dan karena aku egois sangat mencintai diriku sendiri,

aku tak punya pilihan selain mencintaimu.

Bersamamu aku terjebak.

Aku dipaksa menerima diriku sendiri apa adanya, dengan segala keburukannya.

Karena kau mencintaiku dengan segala kelemahanku,

aku menggilaimu dengan segala ketidaksempurnaanmu.

Kau dan aku adalah rumus pasti untuk prahara.

Karena cinta terlalu kecil untuk kita berempat.

[Puisi ciptaan #mbakpatjar]